Ditulis Oleh : Hanafi
Di tengah arus modernitas dan kemajuan ilmu pengetahuan, manusia dihadapkan pada pertanyaan paling mendasar tentang asal-usul, tujuan, dan makna keberadaan. Pertanyaan-pertanyaan itu, yang dahulu dijawab oleh tradisi keagamaan, kini juga menjadi medan debat antara rasionalitas dan keimanan. Dalam konteks Indonesia sebuah negara yang secara sosiologis dan historis berakar kuat pada kehidupan beragama munculnya individu atau kelompok yang memilih jalan non-teistik, atau bahkan menyebut diri sebagai ateis, menjadi fenomena yang menarik sekaligus menantang. Fenomena ini bukan sekadar pergeseran keyakinan, tetapi juga refleksi dari pergulatan intelektual dan spiritual di tengah masyarakat yang kian terbuka terhadap arus global pemikiran.
Namun, perdebatan antara pandangan ateistik dan teistik sering kali berhenti di persimpangan kecurigaan. Kaum ateis menuduh agama menghambat kebebasan berpikir, sementara kaum beriman menilai ateisme sebagai bentuk keangkuhan rasionalitas manusia. Kebuntuan ini bukan hanya soal ideologi, tetapi juga akibat dari kegagalan kedua sisi dalam memahami bahasa dan kerangka berpikir satu sama lain. Di sinilah pentingnya upaya “memecah kebuntuan pemikiran” menghadirkan dialog yang jernih, rasional, dan filosofis antara dua pandangan yang tampak berseberangan namun sama-sama mencari kebenaran tentang realitas tertinggi.
Tulisan ini berupaya menelusuri akar munculnya ateisme di Indonesia, memahami faktor sosial, budaya, dan intelektual yang melatarbelakanginya, serta mengajukan kembali dialog filosofis antara tokoh-tokoh ateis modern seperti Dawkins, Russell, Freud, Camus, Nietzsche, hingga Hitchens dengan para pemikir Islam klasik maupun kontemporer dari Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, hingga Muhammad Iqbal. Tujuannya bukan untuk “menang” dalam perdebatan, tetapi untuk membuka ruang berpikir yang lebih luas, di mana akal dan wahyu tidak lagi saling meniadakan, melainkan saling menerangi.
Munculnya Ateisme di Indonesia
Di tengah negara yang mayoritas penduduknya beragama, seperti Indonesia, muncul suatu fenomena yang relatif tersembunyi namun semakin mendapat perhatian: yaitu kehadiran individu-atau kelompok yang menyebut diri sebagai ateis atau tidak beragama (non-teistik). Proses kemunculan ini dapat dilihat dari beberapa faktor yang saling berkaitan:
1. Modernisasi, Pendidikan & Teknologi
Dengan meningkatnya akses pendidikan tinggi, globalisasi pemikiran, dan teknologi komunikasi (internet, media sosial), tersedia ruang bagi pertanyaan kritis terhadap agama, kepercayaan tradisional, dan institusi keagamaan. Sebuah studi menemukan bahwa anggota grup daring ateis di Indonesia banyak berasal dari mahasiswa atau alumni sarjana.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sosial-kultural turut membuka peluang bagi identitas non-agama.
2. Lingkungan Sosial dan Kekecewaan terhadap Praktik Keagamaan
Beberapa individu yang akhirnya memilih ateisme menyebut faktor lingkungan sosial, pengalaman negatif dengan praktik keagamaan, atau ketidaksesuaian antara doktrin agama dengan realitas hidup sebagai pendorong. Sebuah riset menyebut “praktek keagamaan yang dianggap destruktif, lingkungan sosial, perkembangan teknologi, latar belakang studi” sebagai faktor.
Dengan demikian, munculnya ateisme bukan semata karena “pengaruh Barat” semata, tapi juga refleksi lokal terhadap dinamika keagamaan, nilai, dan kebebasan berpikir.
3. Kurangnya Pengakuan dan Ruang Resmi
Di Indonesia, hanya enam agama yang secara resmi diakui negara: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu.
Mereka yang memilih untuk tidak beragama atau ateis seringkali tidak memiliki ruang administratif atau legal untuk mengidentifikasi diri sebagai “tidak beragama/ateis”. Hal ini menyebabkan banyak yang menyembunyikan identitas mereka. Sebuah artikel menyebut: “Penelitian memperkirakan sekitar 3,5 juta orang Indonesia adalah ateis, namun banyak non-pemeluk agama yang menyembunyikan keyakinan mereka”
Karena itu, pertumbuhan dan visibilitas mereka relatif rendah, namun bukan berarti tidak ada.
4. Komunitas Ateis dan Aktivisme Internet
Komunitas daring seperti Indonesian Atheists muncul sebagai penghubung bagi non-teistik dan ateis di Indonesia.
Misalnya, grup Facebook “Anda Bertanya Ateis Menjawab” memiliki puluhan ribu anggota.
Aktivisme semacam ini menunjukkan bahwa meskipun minoritas, kelompok ini makin “tampak” dalam ruang digital.
5. Tantangan Identitas dan Stigma Sosial
Karena identitas agama sangat melekat dalam kehidupan sosial dan administrasi di Indonesia (misalnya KTP, urusan nikah, warisan), menjadi ateis dapat membawa tekanan sosial, stigma, bahkan risiko hukum atau administratif. Sebuah artikel DW menyebut bahwa individu ateis “enggan memberikan foto dan menolak publikasi” karena kekhawatiran akan dampak sosial.
Dengan demikian, banyak dari mereka memilih untuk tetap “di balik layar”.
Perkiraan Jumlah & Persentase
Karena kurangnya data resmi yang secara eksplisit mencatat “ateis” sebagai kategori dalam sensus nasional atau survei besar, angka yang tersedia adalah estimasi dengan margin error yang cukup besar. Berikut ringkasannya:
Sebuah sumber menyebut bahwa persentase penganut ateisme di Indonesia “kurang dari 2%”.
Sumber lain menyebut angka sekitar 1,5% dari total penduduk Indonesia sebagai ateis.
Salah satu situs edukasi menyatakan perkiraan: “antara 1-3% dari total penduduk nasional atau sekitar 2,9 juta hingga 8,7 juta orang Indonesia yang mungkin mengidentifikasi sebagai ateis.”
Untuk memberikan angka: jika total populasi Indonesia sekitar 290 juta orang (2025 estimasi), maka 1,5% = 4,35 juta orang; jika memakai kisaran 1-3% maka = 2,9 hingga 8,7 juta orang.
Jadi, meskipun angka pastinya tidak bisa dipastikan, perkiraan konservatif menunjukkan bahwa beberapa juta orang di Indonesia mungkin secara pribadi mengidentifikasi sebagai ateis atau tidak beragama namun mayoritas dari mereka tidak terdata secara resmi atau memilih untuk tidak terbuka.
Karena identitas ateis tidak diakui secara administratif di banyak daerah, dan karena tekanan sosial yang ada, angka yang muncul bisa lebih rendah dari jumlah sesungguhnya alias banyak “tidak terungkap”.
Estimasi ini tidak berarti bahwa seluruh individu yang tidak aktif beragama atau jarang beribadah adalah ateis. Ada variasi: non-praktik, agnostik, spiritual tanpa afiliasi, dll.
Perkembangan tren ke non-agama/irreligious bisa dipengaruhi oleh generasi muda, urbanisasi, pendidikan, globalisasi tetapi konteks lokal (budaya, hukum, sosial) di Indonesia memberi karakter unik (misalnya tekanan sosial, identitas agama sebagai bagian dari komunitas) sehingga pertumbuhannya bisa berbeda dari negara-lain.
Menyatukan Nalar dan Iman di Persimpangan Filsafat Timur dan Barat
Dalam perjalanan panjang sejarah pemikiran manusia, perdebatan tentang Tuhan, eksistensi, dan makna hidup tidak pernah padam. Dari Barat hingga Timur, dari rasionalisme modern hingga metafisika klasik, manusia terus mencari jawaban atas pertanyaan tertua dalam sejarah kesadaran: mengapa kita ada, dan untuk apa keberadaan ini berlangsung?
Dalam era modern, tokoh-tokoh seperti Richard Dawkins, Bertrand Russell, Sigmund Freud, Albert Camus, Friedrich Nietzsche, dan Christopher Hitchens menjadi simbol dari pandangan ateistik yang menolak atau meragukan keberadaan Tuhan. Mereka berangkat dari semangat ilmiah, empiris, dan skeptis terhadap keyakinan religius.
Namun, di sisi lain, para filsuf Islam klasik dan kontemporer seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Mulla Sadra, dan Muhammad Iqbal memberikan jawaban yang tidak kalah rasional tetapi dengan horizon metafisik yang lebih luas. Mereka tidak menolak sains, melainkan menempatkannya dalam tatanan eksistensi yang menyeluruh, di mana akal dan wahyu bukan musuh, tetapi dua cahaya yang saling melengkapi dalam memahami kebenaran.
Melalui dialog imajiner antara kedua kubu ini, kita tidak hanya menyaksikan perbedaan argumen, tetapi juga dua cara berpikir yang mencerminkan arah pencarian manusia terhadap makna, moralitas, dan asal-usul segala sesuatu. Dari sini, tampak bahwa filsafat Islam tidak sekadar menjawab pertanyaan “bagaimana dunia bekerja”, tetapi juga “mengapa ia ada” sebuah upaya untuk menyatukan nalar dan iman dalam satu pandangan yang utuh tentang realitas.
Berikut jika saya gambarkan berbenturannya pemikiran Filsafat Ateis dan Filsafat Islam jika kita melihat mereka berdebat pemikiran.
1. Richard Dawkins vs. Ibn Sina (Avicenna)
Tema: Evolusi dan Keberadaan Tuhan
Dawkins:
“Saya tidak butuh Tuhan untuk menjelaskan kehidupan. Evolusi sudah cukup.”
Ibn Sina:
“Kau menjelaskan bagaimana kehidupan berkembang, bukan mengapa ia bisa ada sama sekali. Evolusi bekerja di dalam hukum alam. Tetapi siapa yang menetapkan hukum itu?”
Dawkins:
“Hukum alam itu sifat dasar realitas.”
Ibn Sina:
“Dan sifat itu berasal dari mana? Setiap yang mungkin (mumkin al-wujud) pasti bergantung pada sebab. Maka harus ada satu yang niscaya ada (wajib al-wujud) yang tidak bergantung pada apapun yang menjadi sebab segala sebab. Itulah Tuhan.”
Penjelasan:
Dawkins menjelaskan mekanisme biologis, tapi tidak menyentuh metafisika eksistensi. Dalam filsafat Islam, mekanisme tidak meniadakan Sang Pencipta, justru menegaskan keteraturan yang berasal dari-Nya.
2. Bertrand Russell vs. Al-Farabi
Tema: Bukti Logis Keberadaan Tuhan
Russell:
“Saya tidak melihat bukti empiris adanya Tuhan. Semua argumen itu tak bisa diverifikasi.”
Al-Farabi:
“Kau menuntut bukti empiris untuk sesuatu yang non-empiris. Apakah kau bisa melihat logika? Atau menyentuh bilangan? Tidak, tapi kau tahu keduanya nyata.”
Russell:
“Itu karena hasil kerja pikiran.”
Al-Farabi:
“Dan pikiranmu pun wujud tak berjasad. Bukankah lebih rasional menerima bahwa sumber segala intelek adalah Akal Pertama (al-‘Aql al-Awwal) yang memberi bentuk pada semua realitas?”
Penjelasan:
Islam tidak butuh “bukti laboratorium” untuk Tuhan, sebab Tuhan adalah realitas metafisik. Logika Islam membuktikan-Nya melalui rasionalitas, bukan indra.
3. Sigmund Freud vs. Al-Ghazali
Tema: Agama sebagai ilusi psikologis
Freud:
“Agama hanyalah proyeksi ketakutan manusia terhadap kematian dan alam.”
Al-Ghazali:
“Bila manusia takut, itu tanda kesadarannya terhadap keterbatasan. Tapi kesadaran terhadap yang terbatas justru menuntun kepada yang tak terbatas. Kau sebut ilusi, padahal itu intuisi yang mendalam.”
Freud:
“Jadi agama lahir dari kelemahan manusia?”
Al-Ghazali:
“Tidak, dari kekuatan akal yang menyadari bahwa eksistensi ini bukan kebetulan. Ketika engkau tidur dan bermimpi, apakah mimpimu nyata? Tidak. Tapi keberadaan yang menyadari mimpi itulah realitas sejati. Demikianlah Tuhan terhadap dunia.”
Penjelasan:
Freud menjelaskan asal psikologis, tapi bukan kebenaran ontologis. Dalam Islam, keinginan spiritual manusia justru bukti fitrah terhadap Tuhan (QS. Ar-Rum: 30).
4. Albert Camus vs. Mulla Sadra
Tema: Hidup Absurditas dan Makna
Camus:
“Hidup ini absurd. Manusia mencari makna di alam yang tak memberikannya.”
Mulla Sadra:
“Absurd bagimu karena engkau memutus hubungan dengan sumber makna. Keberadaan itu sendiri bertingkat setiap wujud menuju kesempurnaan. Ketika engkau hidup tanpa arah, engkau berhenti pada derajat terendah dari wujud.”
Camus:
“Jadi makna sudah ditentukan?”
Mulla Sadra:
“Makna tidak ditentukan, tapi ditemukan melalui perjalanan menuju Yang Maha Ada. Dalam setiap kesadaran, ada sinar wujud Tuhan. Maka hidup bukan absurd, tapi ayat.”
Penjelasan:
Camus menolak makna objektif, lalu merasa hidup tak bermakna. Filsafat Islam menyebut: makna bukan dikonstruksi manusia, tapi ditemukan melalui kesadaran akan Wujud Mutlak.
5. Friedrich Nietzsche vs. Al-Ghazali
Tema: Moral tanpa Tuhan
Nietzsche:
“Tuhan sudah mati. Kini manusia harus menciptakan moralnya sendiri.”
Al-Ghazali:
“Jika manusia menciptakan moral, maka tak ada kebenaran, hanya kekuatan. Yang kuat akan selalu benar. Bukankah itu awal kehancuran nurani?”
Nietzsche:
“Tapi moral agama membuat manusia lemah.”
Al-Ghazali:
“Tidak. Moral ilahi membatasi agar manusia tidak menjadi binatang berakal. Tanpa Tuhan, engkau bukan bebas, tapi terikat oleh hawa nafsu.”
Penjelasan:
Tanpa fondasi transenden, moral kehilangan nilai objektif. Filsafat Islam menegaskan bahwa kebaikan itu realitas yang berasal dari Tuhan (al-Khayr al-Mutlaq).
6. Christopher Hitchens vs. Muhammad Iqbal
Tema: Agama dan kebebasan berpikir
Hitchens:
“Agama menghambat kebebasan berpikir dan kemajuan.”
Iqbal:
“Tidak, wahyu justru membebaskan dari perbudakan materialisme. Islam tidak memerintahkan buta, tapi ‘Iqra’ bacalah. Itulah ayat pertama.”
Hitchens:
“Tapi agama memecah manusia.”
Iqbal:
“Yang memecah bukan agama, tapi fanatisme tanpa ilmu. Agama sejati menyatukan akal dan hati. Sains memberi kita daya, iman memberi arah.”
Penjelasan:
Islam menyeimbangkan kebebasan dan tanggung jawab. Wahyu bukan musuh akal, melainkan cahaya yang mengarahkannya.
7. Alexander Aan & Abdullah al-Qasemi vs. Filsuf Muslim Kontemporer
Aan:
“Saya memilih berpikir bebas, bukan dibatasi agama.”
Filsuf Muslim:
“Berpikir bebas tidak berarti menolak kebenaran. Laut pun bebas, tapi tetap tunduk pada gravitasi. Tanpa hukum Tuhan, kebebasanmu hanyalah kekacauan.”
al-Qasemi:
“Agama membatasi akal.”
Filsuf Muslim:
“Tidak. Agama menuntun akal agar tidak tersesat oleh kesombongan. Akal tanpa wahyu seperti mata tanpa cahaya mampu melihat, tapi tidak tahu arah.”
Menemukan Titik Temu Antara Akal, Intuisi, dan Keberadaan
Dari serangkaian dialog antara para pemikir ateis dan filsuf Islam, tampak bahwa akar perbedaan pandangan tidak terletak semata pada penolakan atau penerimaan terhadap Tuhan, tetapi pada kerangka epistemologis dan ontologis yang digunakan untuk memahami realitas.
Pemikir ateis berangkat dari empirisme dan skeptisisme, berusaha menjelaskan bagaimana alam bekerja melalui hukum-hukum fisika, biologi, dan psikologi. Namun, filsafat Islam berangkat dari ranah yang lebih mendalam mencari mengapa sesuatu bisa ada sama sekali, dan siapa yang menjadi sumber keberadaannya. Di sinilah muncul logika kausa prima: bahwa segala yang mungkin ada (mumkin al-wujud) pasti memiliki sebab, dan rangkaian sebab itu harus berakhir pada satu Wujud Niscaya (Wajib al-Wujud) yang tidak disebabkan oleh apapun yakni Tuhan sebagai Sebab Pertama dari seluruh realitas.
Ateis, dalam pandangan filsafat Islam, tidak keliru dalam menjelaskan mekanisme dunia, tetapi berhenti pada tataran fenomena. Islam menafsirkan keteraturan alam bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai tanda keteraturan yang bersumber dari Akal Pertama, sumber rasionalitas dan eksistensi.
Pada akhirnya, filsafat Islam tidak menolak kebebasan berpikir, melainkan menuntunnya agar berpijak pada keseimbangan antara akal dan intuisi. Sebab akal tanpa intuisi adalah seperti mata tanpa cahaya mampu melihat bentuk, tapi tak mengenali makna. Dalam sinergi keduanya, manusia tidak hanya memahami dunia, tetapi juga menemukan arah, nilai, dan tujuan dari keberadaannya di tengah semesta yang sarat makna.
Argumen Prima Kausa dalam Membantah Argumentasi Ateis
Konsep Prima Kausa merupakan argumen metafisik yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang memulai eksistensinya pasti memiliki sebab, sehingga keberadaan alam semesta menuntut adanya penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun. Dalam filsafat klasik, Aristoteles menyebutnya Unmoved Mover, sementara Thomas Aquinas menyebutnya First Cause yang bersifat niscaya. Argumen ini muncul dari prinsip dasar bahwa entitas kontingen yang keberadaannya bergantung pada kondisi lain tidak dapat menjadi penjelasan final bagi eksistensi dirinya sendiri. Karena alam semesta bersifat kontingen dan memiliki awal, maka diperlukan entitas niscaya yang menjadi sumber keberadaannya.
Pandangan ateis sering menyatakan bahwa alam semesta dapat muncul tanpa sebab, atau bahwa jika segala sesuatu memiliki sebab, maka Tuhan pun membutuhkan sebab. Argumen ini mengandung kekeliruan logika. Pertama, munculnya alam semesta tanpa sebab bertentangan dengan prinsip kausalitas yang menjadi landasan ilmu pengetahuan. Kedua, argumen “siapa yang menciptakan Tuhan” keliru karena konsep Prima Kausa tidak menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki sebab, tetapi hanya entitas yang mulai ada. Tuhan, sebagai entitas niscaya, tidak memiliki permulaan sehingga tidak membutuhkan sebab.
Ateis juga mengajukan kemungkinan regresi sebab tak berhingga. Namun, secara logis regresi tak berhingga mustahil menghasilkan kondisi aktual; tanpa sebab pertama, tidak akan ada rangkaian sebab-akibat yang terjadi hingga saat ini. Kosmologi modern, terutama teori Big Bang, memperkuat bahwa alam semesta memiliki awal ruang, waktu, dan materi, sehingga penyebabnya harus berada di luar dimensi tersebut non-materi, tidak terikat waktu, dan memiliki kehendak.
Dengan demikian, argumen Prima Kausa tetap kokoh untuk membantah argumen ateis. Secara logis dan ilmiah, keberadaan alam semesta menuntut adanya Penyebab Pertama yang bersifat transenden, niscaya, dan memenuhi karakteristik ketuhanan.
Biodata penulis:
Pekerjaan:
Wartawan: Berdikari Online 2009-2010.
Koran Kaltim 2011-2012.
Majalah Bapeda Kukar 2013.
Media Kaltim 2023-Sekarang.
Pendidikan:
Pernah Kuliah di Universitas Kutai Kartanegara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Organisasi:
- Sekretaris Umum, Himpunan Mahasiswa Islam (HmI), Kom Fisip Unikarta (2007).
- Kepala Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Pembinaan Anggota (PPPA)Himpunan Mahasiswa Islam (HmI), Kom Fisip Unikarta (2008).
- Sekretaris Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Pemuda (PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HmI), Kom Fisip Unikarta (2009).
- Menteri Lingkungan Hidup, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unikarta (2009).
- Presiden BEM Fisipol Unikarta (2009-2010).
- Ketua Jaringan Aksi Mahasiswa (JAM) Kukar (2010-2011).
Daftar Pustaka
Al-Farabi. (1998). The Political Regime (al-Siyasa al-Madaniyya). Ithaca Press.
Al-Ghazali. (2000). The Incoherence of the Philosophers (Tahafut al-Falasifah). Brigham Young University Press.
Camus, A. (1955). The Myth of Sisyphus. Vintage International.
Dawkins, R. (2006). The God Delusion. Bantam Press.
Freud, S. (1927). The Future of an Illusion. W. W. Norton & Company.
Hitchens, C. (2007). God Is Not Great: How Religion Poisons Everything. Twelve Books.
Ibn Sina (Avicenna). (2014). The Metaphysics of The Healing. Brigham Young University Press.
Iqbal, M. (1930). The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Oxford University Press.
Mulla Sadra. (1981). The Transcendent Philosophy of Mulla Sadra (al-Hikmah al-Muta‘aliyah fi al-Asfar al-Arba‘ah). Islamic Philosophy Translation Series.
Nasr, S. H. (1993). An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. State University of New York Press.
Nietzsche, F. (1974). The Gay Science. Vintage Books.
Rahman, F. (1975). The Philosophy of Mulla Sadra. State University of New York Press.
Russell, B. (1957). Why I Am Not a Christian. Simon and Schuster.
Saeed, A. (2008). Islamic Thought: An Introduction. Routledge.
Smart, N. (1998). Worldviews: Crosscultural Explorations of Human Beliefs. Prentice Hall.
Aan, A. (2012). Kebebasan Berpikir di Dunia yang Beragama. Kompasiana. https://www.kompasiana.com
Deutsche Welle Indonesia. (2021, 13 Mei). Ateis di Indonesia: Menyembunyikan Keyakinan di Negeri Religius. https://www.dw.com/id
Indonesian Atheists. (2023). Komunitas Ateis Indonesia di Dunia Maya. https://www.indonesianatheists.org
Pew Research Center. (2023). Religious Belief and National Belonging in Southeast Asia. https://www.pewresearch.org
Tempo.co. (2022, 14 Juni). Fenomena Ateis di Indonesia dan Tantangan Sosialnya. https://www.tempo.co
Komentar
Posting Komentar